Migrasi TV Analog ke Digital Terestrial

Tahun 2020 sebuah undang-undang yang kontroversial disahkan. Undang-undang tersebut adalah UU. Cipta Kerja. Di balik kontroversialnya, ternyata UU tersebut mengatur juga tentang migrasi televisi analog ke digital. UU ini bisa memberi angin segar modernisasi penyiaran di Indonesia yang telah lama dibahas dan tak kunjung ada hasilnya.

Migrasi siaran TV analog ke digital sudah saya dengar sejak tahun 2009, bertepatan saat saya baru mengenal dunia blogging. Presiden waktu itu, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono melakukan peresmian uji coba siaran digital di salah satu studio TV swasta di Jakarta. Selanjutnya dilakukan peresmian uji coba lapangan untuk penerimaan TV bergerak oleh Menkominfo saat itu, yaitu Muhammad Nuh, pada tahun yang sama. Pada tahun 2009 ini dibuat peraturan Menkominfo tentang kerangka dasar penyelenggaraan tv digital. Uji coba selanjutnya pada tahun 2010 diresmikan oleh Tifatul Sembiring, sebagai Menkominfo waktu itu. Setelah itu, pada tahun 2011 dibuat Peraturan Menkominfo lanjutan tentang penyelenggaraan TV digital.

Setelah tahun 2011 tersebut saya tidak mengikuti perkembangan TV digital lagi, karena saya fokus blogging. Hingga pada tahun 2015 saya mendengar sedikit kabar tentang dibatalkannya Peraturan Menkominfo oleh PTUN, yang saya sendiri tidak tahu karena apa. Praktis setelah dibatalkannya Peraturan ini, rencana ASO (analog switch off) pada tahun 2018 juga terancam batal. Setelah putusan PTUN itu, banyak LPS (lembaga penyiaran swasta) yang memutuskan untuk berhenti simulcast. Simulcast adalah penyelenggaraan siaran TV analog dan digital secara bersamaan. Hanya itu saja yang saya dengar tentang TV digital pada rentang 2011-2020.

Pada tahun 2019, di daerah saya ada beberapa siaran TV analog yang hilang. Ternyata beberapa siaran tersebut terkena penertiban frekuensi oleh Balmon (Balai Monitoring Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit) , termasuk stasiun TV yang sering saya tonton, yaitu Trans7. Akhirnya, setelah itu saya jadi jarang menonton TV. Apalagi TV saya yang masih tabung saat itu juga sudah mulai rusak. Saya pun lebih banyak menonton YouTube menggunakan internet. Hingga akhirnya TV pun dijual pada akhir tahun 2019 setelah berada di rumah selama 20 tahun.

Sekitar bulan Mei 2020, saya mendapatkan sedikit rezeki. Akhirnya saya putuskan membeli TV layar datar. Antena warisan TV sebelumnya pun masih ada dan mubazir jika tidak dipakai. Saya ingin membeli TV yang langsung mendukung DVB-T2 (Digital Vidio Broadcasting – Second Generation Terestrial). DVB-T2 merupakan format televisi digital yang digunakan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Akan tetapi, karena dana tidak mencukupi, saya hanya bisa membeli TV berukuran 24 inci saja. Pada waktu itu, TV 24 inci belum ada yang mendukung DVB-T2, sehingga saya terpaksa membeli TV analog.

Pada bulan Juli 2020, ada kabar bahwa Trans TV dan Trans7 sudah bersiaran digital di kawasan eks-Karesidenan Madiun. Akhirnya saya pun membeli set-top-box (STB) melalui toko online. Waktu itu saya cari yang paling murah, yaitu merk EviniX, harganya Rp185.000,- belum termasuk ongkir. Saya menerima paket STB tersebut pada awal Agustus 2020 dan langsung saya scan siaran TV digital di daerah saya. Ternyata, saya hanya mendapatkan siaran dari mux Media Group (34 UHF), yaitu Metro TV, Magna Channel, dan BBS TV. Kualitas siarannya pun sangat buruk, sering macet-macet seperti DVD rusak. Mux Transmedia (43 UHF) sama sekali tidak bisa ditangkap dari daerah saya waktu itu. Ya sudahlah, akhirnya saya copot lagi STB tersebut. Oh, iya saya tinggal di Ponorogo dengan jarak udara dari pemancar kurang lebih 45 km ke arah Plaosan, Magetan.

Pada pertengahan Agustus 2020, saya pasang kembali STB itu ke TV dan ternyata siaran di mux Media Grup sudah bagus kualitasnya, sedangkan mux Transmedia sudah bisa tertangkap dengan dua siaran TV, yaitu Trans TV dan Trans7. Namun, pada akhir bulan Agustus siaran mux Transmedia menjadi macet-macet bersamaan dengan masuknya dua siaran TV lainnya, yaitu CNN Indonesia dan CNBC Indonesia. Usut punya usut, ternyata mux Transmedia bentrok dengan frekuensi TVRI analog yang sama-sama menempati frekuensi 43 UHF. Siaran TVRI analog juga terlihat sangat buruk dengan banyak semut. Hal ini berlangsung selama 2 bulan lebih, hingga pada pertengahan November 2020 siaran TVRI analog menghilang dari TV saya dan siaran Transmedia menjadi lancar. Padahal siaran TVRI analog masih ada dan di beberapa daerah masih bisa disaksikan bersama dengan semutnya yang semakin banyak. Entah mengapa TVRI Magetan hingga saat ini terlihat enggan untuk beralih ke digital. Padahal TVRI adalah lembaga penyiaran publik (LPP) yang seharusnya bisa menjadi perintis bagi penyiaran digital khususnya di kawasan eks-Karesidenan Madiun ini.

Baca pula: Daftar Siaran TV Digital di Madiun, Magetan, Ponorogo, dan Ngawi

Saat ini siaran TV digital di daerah saya yang berhasil saya tangkap hanya ada dua mux, yaitu Media Group (Metro TV, Magna Channel, BN TV, dan BBS TV) dan Transmedia (Trans TV, Trans7, CNN Indonesia, dan CNBC Indonesia). Sebelumnya sempat muncul Kompas TV di mux Transmedia yang hanya bertahan dua hari dan akhirnya menghilang kembali. Untuk daftar TV digital yang bersiaran di kawasan eks-Karesidenan Madiun bisa dilihat di postingan saya sebelumnya. Ya, meskipun hanya sedikit siarannya setidaknya ada perkembangan yang positif dengan TV digital di Indonesia yang sangat alot pembahasannya. Padahal dengan adanya siaran digital, akan terjadi penghematan frekuensi di 700 MHz yang nantinya bisa digunakan untuk jaringan internet. Sehingga internet di Indonesia bisa lebih cepat dari sekarang.

Melalui UU Cipta Kerja, migrasi TV analog ke digital menjadi semakin nyata. Di UU tersebut diatur bahwa ASO dilaksanakan paling lambat dua tahun setelah UU disahkan. Dengan begitu, ASO paling lambat dilakukan pada tanggal 2 November 2022. Demikianlah catatan saya tentang migrasi siaran TV analog ke digital. Oh iya, mohon bisa meninggalkan jejak di kolom komentar dan terima kasih sudah mampir di gubuk saya yang sangat sederhana ini.

Related Posts

Posting Komentar