Bagaimana Cara Menonton TV Digital Terestrial?

"Televisi analog akan dimatikan? Waduh, bagaimana ini? Kalau mau menonton TV harus bayar dong, harus pakai internet dong, harus pakai parabola dong." Ungkapan-ungkapan ini mungkin ada di benak Anda saat mengetahui bahwa pemerintah akan mematikan TV analog.

Ya, memang betul saat ini Indonesia sedang proses menuju ASO (analog switch off) alias penghentian siaran analog. Peraturan tentang ini sudah disahkan dalam UU Cipta Kerja pada akhir tahun 2020 yang lalu. Seluruh televisi nantinya akan migrasi ke digital paling lambat tanggal 22 November 2022. Tenang, peraturan ini bukan menyuruh kita menonton menggunakan internet. Bukan pula menyuruh kita memasang parabola. Lalu apa?

Perlu diketahui, televisi digital di sini maksudnya adalah televisi digital terestrial, yang menggunakan pemancar di permukaan bumi (bukan satelit). Sama seperti TV analog selama ini. Jadi, hanya dibutuhkan antena UHF biasa, seperti pada analog. Lalu apa bedanya dengan analog?

Perbedaan TV digital dengan analog adalah pada pesawat televisinya. Untuk menangkap siaran TV digital, Anda harus mempersiapkan televisi yang sudah mendukung siaran digital. Ada beberapa jenis format digital terestrial di dunia, di antaranya format ATSC, DTMB, ISDB-T, dan DVB-T yang dilanjutkan dengan generasi keduanya, yaitu DVB-T2. Indonesia memakai format DVB-T2. Maka dari itu televisi yang dipakai harus mendukung format tersebut.

"Wah, jadi harus membeli TV baru nih? Harus mengeluarkan uang yang banyak dong."

Tenang ... Anda nggak harus membeli TV baru, kok. Anda cukup membeli dekodernya saja. Dekoder TV digital atau yang biasa disebut set-top-box (STB) digital harganya cukup murah. Lebih murah daripada membeli TV baru. Sekitar seratus ribuan Anda sudah bisa membawa pulang STB ini. Pemerintah juga akan menyediakan STB secara gratis bagi masyarakat yang tidak mampu.

Cara menghubungkan STB ke TV cukup mudah, kok. Anda pernah memasang DVD player ke pesawat televisi, ‘kan? Prinsipnya sama seperti itu. Anda hanya memerlukan kabel RCA untuk dicolok ke port AV di pesawat TV. Oh iya, jangan khawatir, kabel ini sudah disediakan di dalam paket pembelian STB. Jika pesawat TV Anda sudah mendukung port HDMI, Anda bisa juga menggunakan kabel HDMI agar gambarnya lebih jernih.

Setelah kabel dipasang, kemudian tekan tombol AV di remot TV (kalau menggunakan HDMI, maka pilihlah menu HDMI). Jangan lupa sambungkan antena ke STB tersebut. Setelah itu, silakan pindai kanal televisi digital secara otomatis. Setelah ketemu kanalnya, pasti hasilnya lebih jernih, lebih canggih, dan lebih bersih daripada televisi analog.

"Sebenarnya untuk apa pemerintah melakukan ASO ini? Kenapa tidak biarkan saja analog yang sudah lama ada itu? Dengan begitu, tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membeli STB atau pesawat TV, ‘kan?"

Perlu diketahui, ASO tidak hanya dilakukan di Indonesia. Seluruh dunia sudah sepakat akan menghentikan siaran TV analog. Nah, saat ini sebagian besar negara di dunia sudah beralih ke teknologi TV digital ini. Indonesia termasuk dalam negara yang lambat dalam migrasi digital. Maka dari itu, mau tidak mau Indonesia harus mengejar ketertinggalan ini.

Keuntungan siaran TV digital sangat banyak, salah satunya adalah penghematan kanal frekuensi. Frekuensi adalah sumber daya alam yang terbatas. Pada siaran analog, satu kanal frekuensi hanya bisa digunakan oleh satu stasiun TV. Di Indonesia, yang menggunakan sistem 8 MHz per saluran, jumlah kanal UHF yang digunakan untuk saluran TV analog hanya ada 40 kanal, mulai dari 22 UHF-62 UHF. Itu pun tidak digunakan semuanya untuk menghindarkan bentrok frekuensi dengan wilayah lain.

Hal itu menyebabkan jumlah stasiun TV nasional dari dahulu sampai sekarang tidak bertambah. Akhirnya siaran TV hanya dikuasai oleh stasiun TV yang sudah ada saja (bahkan hanya dikuasai oleh grup-grup media besar saja). Coba dilihat di TV Anda, apakah beberapa tahun ini ada penambahan stasiun TV nasional yang bersiaran analog? Tidak ada, ‘kan? Hal ini berakibat pada acara-acara TV yang monoton, hampir semua sama.

Nah, dengan teknologi TV digital ini satu kanal frekuensi bisa digunakan oleh banyak stasiun TV hingga 12 siaran. Pasti nanti akan bermunculan stasiun-stasiun TV baru dengan acara yang pasti lebih variatif. Apalagi dengan TV digital ini, stasiun televisi tidak mengeluarkan biaya semahal TV analog. Karena tidak perlu membangun pemancar baru. Cukup ikut pemancar TV lain yang telah memenangkan lelang penyelenggara multipleksing.

Ketika sudah ASO, penggunaan frekuensi akan menjadi lebih hemat. Karena yang digunakan hanya dari kanal 28-48 UHF saja. Frekuensi 22-27 UHF akan digunakan untuk penyiaran digital masa depan. Sedangkan sisanya, 49-62 UHF bisa digunakan untuk penyelenggaraan internet 5G. Sehingga internet akan semakin lancar.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar

Ikuti Blog Ini